Maria, Ratu yang Melayani

Bacaan Injil: Matius 23:1–12

“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”
(Matius 23:11)

Hari ini Gereja merayakan Santa Perawan Maria Ratu. Ketika mendengar kata ratu, mungkin kita membayangkan seseorang yang memiliki mahkota, kedudukan tinggi, dan dilayani oleh banyak orang. Namun, Maria adalah Ratu yang berbeda.

Maria menjadi Ratu bukan karena kekuasaan duniawi, bukan karena ia mencari kehormatan, dan bukan pula karena ingin ditinggikan. Ia adalah Ratu karena seluruh hidupnya dipersembahkan kepada Allah. Sejak berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan” (Luk 1:38), Maria menunjukkan bahwa kebesaran sejati lahir dari kerendahan hati dan ketaatan kepada kehendak Allah.

Injil hari ini pun mengingatkan kita agar tidak mencari penghormatan dan kedudukan untuk meninggikan diri. Yesus berkata bahwa yang terbesar adalah mereka yang mau menjadi pelayan. Pesan ini sangat indah bila kita renungkan bersama teladan Maria. Sebagai Ratu Surga, Maria justru dikenal karena kerendahan hatinya. Ia tidak mengarahkan perhatian kepada dirinya sendiri, melainkan selalu membawa manusia kepada Yesus.

Dalam hidup sehari-hari, kita pun sering ingin dihargai, dipuji, atau dianggap paling hebat. Kita mungkin merasa kecewa ketika usaha kita tidak diperhatikan atau ketika orang lain mendapatkan penghargaan yang lebih besar. Namun, Maria mengajarkan bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak pujian yang kita terima, melainkan oleh seberapa setia kita melakukan kehendak Tuhan.

Menjadi pengikut Kristus berarti belajar untuk melayani. Di rumah, kita dapat membantu tanpa harus diminta. Di sekolah atau tempat kerja, kita dapat melakukan tugas dengan tulus. Dalam pergaulan, kita dapat memilih untuk rendah hati, mengampuni, dan tidak merasa diri lebih baik daripada orang lain.

Hari ini, di bawah perlindungan Santa Perawan Maria Ratu, mari kita belajar memahami arti kebesaran yang sebenarnya. Mahkota Maria bukanlah lambang kesombongan, melainkan kemuliaan yang lahir dari kesetiaannya kepada Allah. Ia menjadi mulia karena terlebih dahulu menjadi hamba.

Semoga kita pun tidak mengejar mahkota dunia yang sementara, tetapi berusaha menjalani hidup dengan hati yang rendah, setia, dan penuh kasih.

Refleksi

Hari ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah aku lebih sering ingin dilayani daripada melayani?
  • Apakah aku mencari pujian dan pengakuan dari orang lain?
  • Sudahkah aku belajar dari Maria untuk berkata, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”?

Kiranya Santa Perawan Maria, Ratu Surga dan Bumi, menuntun kita untuk semakin dekat kepada Yesus dan mengajarkan kita bahwa orang yang sungguh besar di hadapan Allah adalah mereka yang rendah hati dan mau melayani dengan kasih.

Doa

Ya Allah Bapa yang penuh kasih,
kami bersyukur atas teladan Santa Perawan Maria, Ratu Surga dan Bumi.

Melalui kerendahan hati dan ketaatannya, Maria mengajarkan kami untuk selalu mengutamakan kehendak-Mu. Jauhkanlah kami dari kesombongan dan keinginan untuk selalu dipuji.

Ajarlah kami untuk menjadi pribadi yang rendah hati, mau melayani, dan setia melakukan kebaikan, meskipun tidak selalu dilihat atau dihargai oleh orang lain.

Santa Perawan Maria, Ratu kami,
doakanlah kami agar hati kami selalu tertuju kepada Putramu, Yesus Kristus, Tuhan dan Penyelamat kami.

Amin.

 

(lorenbi)